Global Sevilla School menghadirkan Love & Legacy bersama Dr. Asheena Baez untuk membantu orang tua mengenali potensi anak dan mendampingi mereka tumbuh mandiri. Kegiatan berlangsung di kampus Pulo Mas, Jakarta Timur (Foto: Dok. Nasywa Azzahra/detikcom)
Global Sevilla School menggelar seminar pengasuhan bertajuk Love and Legacy di kampus Pulo Mas, Jakarta Timur, Kamis (22/10/2026), dengan menghadirkan Dr. Asheena Baez, pakar mindfulness internasional dan ahli kepemimpinan serta kesejahteraan. Dilansir dari Detikcom, kegiatan ini bertujuan membantu orang tua mengenali kekuatan anak, membangun karakter, dan mendukung kemandirian mereka melalui pendekatan pengasuhan berbasis potensi.
Seminar tersebut menyoroti pentingnya mengubah kebiasaan orang tua yang lebih berfokus pada kekurangan anak daripada mengembangkan keunggulan mereka. Pendekatan strengths-based parenting mengajak keluarga mengenali kemampuan unik anak dan menggunakannya sebagai dasar untuk membangun kepercayaan diri.
Asheena menjelaskan bahwa pendekatan ini mendorong orang tua meninggalkan pola pikir yang berpusat pada kekurangan dan beralih pada pengembangan potensi. Ia juga menekankan pentingnya komunikasi keluarga yang terbuka untuk membangun hubungan emosional dengan anak.
Saat menjelaskan prinsip tersebut, Asheena menyampaikan pandangannya mengenai perubahan pola pikir orang tua.
"Saya selalu memberi tahu para orang tua bahwa harus ada pergeseran dari rasa kekurangan menuju kelimpahan. Terkadang kita cenderung terjebak pada cara berpikir yang defisit, dan itulah hal yang menghabiskan waktu kita. Kita cenderung melupakan kelimpahan, yaitu kekuatan nyata yang dimiliki anak-anak," ujar Asheena.
Ia menilai pengenalan terhadap kekuatan anak dapat membantu keluarga melihat peluang di tengah kesulitan. Komunikasi yang jelas juga dinilai penting untuk membangun kedekatan emosional dan menempatkan cinta sebagai fondasi hubungan orang tua dengan anak.
"Ketika kita mampu berfokus pada kekuatan, kita benar-benar dapat membangun peluang dari apa yang tadinya mungkin merupakan rintangan. Ini tentang komunikasi yang jelas dalam keluarga sehingga orang tua memiliki kesempatan untuk berbicara langsung ke lubuk hati anak-anak mereka, karena warisan terbesar adalah cinta," ujar Asheena.
Dalam praktik sehari-hari, Asheena menyarankan orang tua mengambil jeda sebelum merespons perilaku anak. Melalui mindfulness, orang tua dapat mengamati situasi saat ini tanpa langsung memberikan penilaian, sehingga percakapan berlangsung lebih tenang.
"Langkah pertama yang saya katakan kepada semua orang tua binaan saya adalah mengambil jeda. Benar-benar mampu berhenti sejenak dan merefleksikan posisi Anda saat ini. Mindfulness mengajarkan kita untuk memperhatikan momen saat ini tanpa menghakimi," ungkap Asheena.
Asheena juga menjelaskan keterkaitan kegiatan tersebut dengan pengalamannya mengajar di Columbia University, Amerika Serikat. Ia menyebut penelitian yang dikerjakan di lingkungan tersebut banyak berfokus pada mindfulness dan penguatan ketangguhan tim kepemimpinan.
"Di Amerika Serikat, saya adalah seorang pengajar di Columbia University, di mana saya memperkuat ketangguhan tim kepemimpinan di seluruh penjuru negeri. Sebagian besar penelitian yang kami lakukan di sana berpusat pada mindfulness. Dan Global Sevilla adalah sekolah berbasis mindfulness nomor satu di Jakarta," tutur Asheena.
Ia berharap kolaborasi tersebut dapat memperkuat hubungan antara Amerika Serikat dan Jakarta dalam penerapan mindfulness di lingkungan keluarga dan pendidikan.
"Oleh karena itu, saya ingin memastikan kehadiran saya di sini untuk membangun jembatan penghubung antara AS dan Jakarta guna memastikan bahwa mindfulness menjadi pilar utama dan sarana untuk membantu anak-anak maupun keluarga meraih kesuksesan dalam hidup mereka," imbuh Asheena.
Ketua Yayasan Budi Pekerti Luhur, Andrew J. Jules Soebali, menyatakan seminar ini merupakan bagian dari komitmen Global Sevilla School dalam mendampingi orang tua membentuk karakter anak. Ia menjelaskan bahwa sekolah menggunakan mindfulness sebagai salah satu pendekatan pendidikan untuk membantu siswa meningkatkan konsentrasi, kepedulian, dan empati.
Andrew menyampaikan bahwa visi sekolah menempatkan pembentukan karakter sebagai bagian penting dari proses pendidikan, di samping pencapaian akademik.
"Kami adalah sekolah berbasis mindfulness terdepan. Kami memiliki misi dan visi, yaitu membina siswa global yang berkarakter. Kami menggunakan mindfulness sebagai salah satu metode dan upaya untuk mendidik anak-anak supaya mereka hadir utuh dan sadar penuh. Sikap tersebut membantu anak-anak lebih berkonsentrasi dalam belajar, lebih peduli kepada lingkungan dan sekitarnya, serta memiliki rasa empati dan kepedulian terhadap kawan-kawannya," papar Andrew Soebali.
Menurut Andrew, sekolah ingin membantu orang tua mendampingi anak menemukan jati diri dan panggilan hidup mereka. Sasaran pendidikan tersebut mencakup perkembangan karakter, kepedulian terhadap sesama, dan penghargaan terhadap keberagaman budaya serta agama.
"Jadi bagi kami bukan hanya prestasi akademik saja ataupun prestasi nonakademik seperti olahraga dan kesenian. Kami juga ingin anak-anak memiliki karakter yang baik, dapat menjadi panutan bagi sesamanya, memiliki kepedulian pada orang lain, sadar akan keragaman budaya dan agama karena kita adalah bangsa Indonesia, dan bisa menjadi diri mereka sendiri. Tidak selalu tentang profesi, tetapi juga soal panggilan jiwa," jelas Andrew Soebali.
Musisi dan aktor Baim, yang mengikuti seminar tersebut, turut membagikan pengalamannya dalam sesi refleksi bersama Asheena. Ia menyoroti pentingnya menghormati perasaan anak dan menciptakan lingkungan rumah yang aman bagi mereka untuk mengungkapkan emosi.
"Kalau soal anak-anak, mereka memang punya cara yang berbeda dalam mengungkapkannya. Jadi, ketika dia bilang ini sulit dan aku harus menahan air mata, saya ingin menghargai perasaannya itu. Kami selalu berusaha menciptakan lingkungan yang aman bagi anak-anak," ujar Baim.
Source: https://www.cirebontimes.com/global-sevilla-seminar-pola-asuh-anak